Selasa, 29 Desember 2015

Langit

langit
telah sekian lama
saksikan peristiwa nan luar biasa

membukukan
keseluruhan pernak pernik
kejadian
begitu menawan

hamparan luas
berisi manik-manik
unik
begitu fantastik

siang ia terangi hati
ceriakan pikiran
tempat bagi cirrus stratus
serta cumulus
menampakan diri
berlarian memanjakan hari

malam ia menawan
saat bagi vega dan capella
pamerkan pesona
buat kehangatan
bagi kepenatan

masih tersimpan
keagunfan tak berbilang
dari Tuhan
di bawah naungan
nyonya besar berkerudung biru keputihan


Cirebon,  13 april 2009
            18 jumadil akhir 1430

Lamunan malam

Serpihan kertas putih pembawa berita
Dalan keheningan lalu lalang
Dalam keramaian malam yang petang
Melingkupi ayat-ayat bintang gemilang

Tak penah ku dapatkah sebuah
Hati dari seorang petani
Yang menawarkan hati
Menyelimuti Ibu Pertiwi

Tubuh bergoyang-goyang
Ke kiri dan ke kanan
Melambai-lambai
Mengajak orang menghampiri kesedihan


Pare, Kediri,
15 Mei 2008
10 Jumadil Awal 1429

Kriteria

Sepi memasak hatiku dalam-dalam
Terkoyak hatiku oleh pisaumu nan tajam
Teriris mataku melihat kelakuanmu
Berada di sisi lain
Temanku beri nasehat
Memanasi dengan kata pedih
Buat keningku berkenyut
Lama tak jumpa dengannya
Ku Tanya pada sahabatnya
Tubuhnya terbelah dua
Ku berusaha simpan rasa hati

Bertemu dengan orang yang ia cinta
Bersua dengan dirinya
Ia bertanya kemana
Dirimu ku ucapkan sebenarnya
Tak heran kau bbegitu mencintainya
Ia sungguh memenuhi
Kriteria hatimu


Majalengka
18 Oktober 2006

Kepada siapa?

Ada kabar
Gelap telah selimuti bumi
Ada kabar
Tak ada lagi cahaya untuk dibagi
Ada kabar
Hidup hanya untuk mereka yang mumpuni

Ada hari dimana gelap selimuti bumi
Tapi bukan hari ini
Ada hari dimana tak ada lagi cahaya untuk dibagi
Tapi bukan hari ini
Ada hari dimana hidup hanya untuk mereka yang mumpuni
Tapi bukan hari ini

Tak ada satupun di bumi ini
Yang abadi
Dunia hanyalah tempat bagi mereka yang fana
Sedang Ia sama sekali tak mengenalnya
Hanya Ia yang abadi
Tak ada awal dan tak ada akhir bagi-Nya
Maka kepada siapa lagi kalau bukan kepada-Nya
Maka apa lagi yang bisa harapkan pada dunia


Majalengka, 20 januari 2012

Kelak

Sifat fitrah manusia
Akan datang tatkala ia
Berada dalam keadaan tercekik
Tak berdaya
Terbelenggu mara bahaya

Namun jikalau habis masanya
Tanpa terasa ia jauhi
Fitrah yang ada dalam diri

Tuhan begitu gemar
Beri cobaan tak tertanggungkan
Agar kelak ia mafhum
Siapa Pemilik keseluruhan alam
Pencipta dirinya
Yang dipandang sempurna
Dari makhluk lainnya

Cirebon, Juli 2009

Kehilangan

Dalam suasana
Pagi menjerit
Mencekam setiap suasana
Yang ada dalam ruang
Dipenuhi bayang-bayang semu

Tak ada yang tersadar
Tak ada yang terjaga
Mendengar tikaman barusan

Satu waktu
Seseorang tersadar
Dalam kehilangan
Akankah tetap terulang


Babakan,
12 Novamber 2008

Kau pun

pada mulanya aku hanya peringatkan
dirimu tentang apa yang sebenarnya
telah terjadi antara aku dan dirinya

bila kau tak anggapku lagi
itu semua urusanmu
kau yang tentukan aku salah atau benar
kau yang tentukan aku layak atau tidak
dan kau yang tentukan aku bisa atau tidak
semua kuserahkan padamu

kau yang menyulut api
kau pula yang bertanggungjawab
redupkan apa yang telah kau sulut
dengan kedua tanganmu itu

aku bukanlah
satu-satunya korban
yang bisa kau permainkan
seenak hatimu
aku memiliki hati yang kau pun miliki


Bandung, 13 November 2011

Hitam putih

Wajahnya begitu ramah
Tanpa beban
Tahukah kawan
Ia murah senyum
Tak sehelai pun
Garis kegelapan
Terhampar di wajahnya

Berseri-seri
Aku berada di sampingnya
Menyaksikan keagungan
Sebuah hati sunyi
Tenteram
Begitu ringan
Luar biasa

Matanya begitu menawan
Meski telah sedikit
Cahaya tampak di dalamnya
Kata-katanya lembut
Selembut sutera
Berbobot penuh makna

Pundaknya itu
Kau tahu
Pundaknya menandakan
Ia telah banyak
Makan garam
Telah mengerti serta mengenal
Hitam dan putih kehidupan
Babakan,
07 Januari 2009
10 Muharam 1430

Hari

Dering sepi seekor burung pengiring malam
Lambayan support siberikan tanaman yang rindang
Sapaan-sapaan dihadirkan angin yang mengudara
Lantunan-lantunan disediakan air yang berjatuhan

Malam nan tandus
Setandus udara di puncak gunung fujiyama
Berkumpulah berpasang mata
Yang ada dalam diri manusia
Kulihat katanya
Kudengar tulisannya

Bila ada setitik huruf tak terdengar
Niscaya tubuhku harus kebal
Bila ada satu suku kata tak tertulis
Maka tubuhku haruslah terkendali

Oh Tuhan
Hari ini
Hari yang begitu menyenangkan


Cirebon, Februari 2008

Hari spesial

Sekarang adalah hari
Spesial tersendiri bagiku
Aku berharap mendapat
Sesuatu yang indah darimu
Seharusnya menyenangkan
Walau tanpa kehadiranmu
Di sampingku saat aku
Diacungi jempol oleh yang lain

Tak ada yang ingat
Hari bahagiaku kecuali
Seorang teman dekat
Dari teman terdekat
Mengucapkan selamat
Disela orang sibuk sendiri
Disela orang berlalu lalang
Dalam kehidupan layar kaca




Majalengka
27 Juni 2006

Elegi tak menanti

sepi memagut
kelam tiba hinggapi
diri seorang anak manusia mengkerut
karena dingin telah rasuki tulang rusuk
serta kesunyian telah hampiri
kesadaran si khusyuk

biola-biola cinta
dawai hati penopang diri lusuh
penuh dengan dosa yang tak pernah
sama sekali dibasuh
dalam sunyi ia lantunkan
dalam hening ia dendangkan
nada kerinduan mendalam
akan kehidupan impian
melalui simfoni sebuah keabadian
merajut sutra menyulam sebuah tilam
berenda pualam

meski sendiri
dan terus meratapi
dalam segukan setiap kepasrahan
ia tak pernah putus asa
mengharap datangnya
sebuah makna yang dapatkan hati menjelma
mendapatkan hati menjadi sebuah biola
cinta sang kekasih katanya

engkau yang kini hanya terpaku
membisu dalam kebekuan
tak berdaya karena merasa terbuang
tak percaya pada diri sekalipun
sebab mereka telah dahulu berbuat
sebab mereka telah jadikan aku tak berderajat
cukuplah sesuap rasa manis
dari secangkir kopi pahit
yang selalu kau sajikan untuk majikan
menjadi penawar dalam setiap dukamu
sesuap rasa manis dari dahaga
kecupan dalam sebuah dunia nista
rangkulan mesra seorang peminta
harapan seorang anak dalam jasad tak bernyawa

perasaan dingin nan mendalam
seolah tak pernah hengkang
dari dimensi paruh waktu
yang ada di sini
dalam rongga dada
dalam sudut ruang berdimensi absurd
basahi diri sendiri
melucuti mengganti wadah yang telah membumi


Cirebon
12 nopember 2008

14 dzulqa'dah 1429

Dua buah hati

Hari ini
Di bumi yang indah ini
Di bumi nan subur ini
Berpisah seorang teman sejati
Ingin berbalas budi
Hingga jiwa tinggalkan diri

Sebuah pohon kecil jadi saksi
Perjanjian dua buah hati
Yang kini sedang bersedih
Tak kan ingin sampai di sini
Meski jiwa tinggalkan diri
Masih seperti ini

Dua buah hati
Tak kan berhenti
Mengejar citra diri
Terus berlomba demi
Munculnya dua buah hati kembali


Majalengka, November 2007

Diri sendiri

berada dalam kebimbangan
kadang buat kita sembarang mengambil keputusan
meski pada saat itu
kita dituntut putuskan suatu perkara
yang akibatkan terambilnya nyawa

semua tak terkendali
namun demikian
kitalah pemilik tubuh kita sendiri
kitalah raja
raja atas diri kita sendiri
semua tergantung kita

hitam atau putih
yang kita pilih
bahagia atau merana
yang kita pinta
sedih atau senang
yang kita terawang
di masa yang akan datang

Bandung, 22 Oktober 11