Minggu, 17 Januari 2016

Wadah Jiwa

Menyatu di bumi
Menyatu dengan sesama
Memasuki dunia yang senantiasa
Berkesinambungan dalam derita
Rasakan setiap asa
Yang terpendam di jiwa
Lalu nyatakanlah
Walau itu pahit rasanya

Meraih harapan langit
Meraih sesuatu yang rumit
Memasuki dunia yang baru dijalani
Setelah sekian lama mendaki

Taburkanlah seluruh garam yang
Kita kecap pada setiap masa
dalam wadah-wadah jiwa




Babakan,
28 Oktober 2008
28 Syawal 1429

Untuk Diukur

seperti ketika aku berada di puncak
jalan menuju surga keindahahn
tapaki tiap jejak sang pangeran
halau sgala marabahaya menghadang

pahit getir bukan pilihan
namun suatu jalan
bagiku untuk mengukur
wadah dalam diri

tidaklah mudah melakukan
hal yang slalu dianggap susah
ujian akan berdentang
seiring detak jantung
yang terpacu dengan kencang

diriku tak seperti khayalanku


Bandung, 13 Agustus 2010

Ujian Sebentar Lagi

Ujian sebentar lagi
Siapkan fisik siapkan mental
Menjamak kumpulan kertas
Menyapa bolpen
Terangi dengan lampu bertopeng

Tangisan awan
Tak jadi masalah buatku
Tuk terus menuntut ilmu
Demi tercapainya citaku

Seabad lamanya
Ku tuntut ilmu dalam
Jeruji sekolah
Berwindu-windu
Ku bergelut dalam lautan ilmu
Aku tidak ingin sia-sia begitu saja
Hanya karena tidak membaca




Majalengka
04 Desember 2006

Tulisan Untuk Dunia

Menari ku di atas pangkuan api
Membara membakar mimpi
Hidup tak berguna tiada arti
Menoreh luka asmara Ilahi
Dibumbui rasa cinta sejati

Wahai dunia lihatlah diriku
Penuh dengan rasa tertipu
Hancur lebur badanku tak mampu
Berdiri melangkah menuju
Lautan emas singgasana-Mu

Mentari terbenam di arah barat
Burung bangau kembali ke kubangan
Sekarang lihat mata terbelalak
Menangis sedih harta tak punya


Ciborelang
15 November 2006

Tetaplah

Cirebon,
17 November 2008
17 Syawal 1429


Setiap nafas dalam dada ini
Terasa sesak
Namun jika ku dengar namamu
Rasanya udara ini tiba-tiba
Terada menyejukan
Menyegarkan
Perasaan itu terus berkesinambungan

Otak yang tertanam dalam kepalaku ini
Terasa hampa
Namun jika kulihat
Keteduhan wajahmu
Keteduhan itu seakan
Memberi kehidupan bagi
Para sel yang membeku
Peristiwa itu senantiasa berurutan

Tolong
Tetaplah seperti itu
Jangan biarkan luka yang dulu
Terbuka kembali olehmu

Kenangan

tak bisa dilupakan
saat ini
aku berada jauh
semakin jauh darinya
meski sekarang aku menaruh hati
pada seseorang yang sama sekali
belum ku kenali
namun diam-diam aku
masih menyimpan perasaan
kepada dirimu

entah apa sekarang
yang ku lakukan
mencintai tapi tak mau memberi
mencintai tapi aku benci
katakan adanya

Tuhan akankah ini terulang kembali
pada diriku
layaknya masa
dikala waktu
memutarkan rasa sayang nan terbayang-bayang


Pare, Kediri
12 may 2008
7 jumadil ula 1429

Tersadar

semenjak bulan purnama pertama terakhir
aku melihatmu tengan bersimpuh dalam
sujudmu yang sempurna
rukukmu yang simetris
tahiyatmu yang mengilhami diriku
akan segala yang telah kulakukan
terhadap diriku sendiri


meihatmu adalah anugerah terbesar
bagiku
dapat mengenalmu adalah karunia agung
bagiku


tadinya kusudah putus asa
akan semua hal yang menggagu
membelenggu kedua tanganku
tak terlihat sedikitpun
cahaya di jalan yang biasa kulalui
dan
setelah melihat
seorang hamba yang bersimpuh
sepertimu perlahan
kulihat sepercik cahaya
yang kuyakin bisa hidupkan kembali
malaikat kecil yang berdiam diri
di hati kecilku

Bandung, 13 oktober 2011

Terperangkap

Pesonanya telah
Membuatku terperangkap
Ke dalam lautan cinta
Lautan asmara
Bergejolak membara

Tak tahu harus berbuat apa
Tak sedikitpun cahaya
Menerobos memasuki
Alam pikiran sejati

Aku telah terbutakan olehnya
Membuat diriku memandang
Sebelah mata
Sebelah telinga

Aku telah terkena sihir cintanya
Membuat diriku tak bisa
Bedakan surga neraka




Babakan,
14 Januari 2009
17 Muharam 1430

Tempat Menyendiri

Tuhan
Menciptakan sesuatu pastilah
Memiliki sebuah maksud
Dan sebuah tujuan
Tidaklah mungkin bagi-Nya
Menciptakan dengan sembarang
Jikalau itu sembarang
Tetap ia memiliki
Sebuah arti dan nilai tersendiri

Di sini tempatku menyendiri
Mengosongkan pikiran dan berbagi dengan alam
Meski masih ada kegaduhan
Di sela-sela gendang telinga ini

Angin
Masih terdengar menyapa
Dalam keheningan
Suara yang hampa
Tanpa dilanda derita





Babakan,
26 Oktober 2008
26 Syawal 1429

Telah Lama

Manakala tinta dalam pena berbicara
Tentang kepedihan suatu masa
Dikala kehilangan timpa si empunya
Mau apa dikata
Semua hilang tanpa rencana

Rasa kehilangan
Akan sesuatu yang telah lama
Tak pernah diasah
Menggubah simfoni tersendiri
Dalam setiap derap langkah kaki

Keegoisan selama ini
Telah hilangkan cipta rasa seni
Yang telah lama dimiliki
Sunyi
Selimuti
Kebekuan diri

Cirebon, Oktober 2009

Tali Simfoni

Tali simfoni
Mengikat satu janji
Merencanakan dua hati
Mengumpulkan simpul
Ironi
Menjadikan citra diri
Menjanjikan sebuah
Cinta sejati

Kabarnya tali itu
Kini menjadi satu 
Merangkul bahu
Mengikat kuat membatu
Menjamak satuan kalbu

Tali tali tali
Hidup menawarkan tali menali
Simfoni simfoni simfoni
Tetap kekal abadi
Dalam satuan bumi




Bandung
5 Juli 2008
2 Rajab 1429

Kabar Gembira

gembira
kabar bagi
kehidupan kami
punya otak
begitu brilian
begitu cemerlang
begitu pintar

pintar korupsi
pintar menipu diri
pintar melempar batu
kepada orang lain sementara
kita bersiul sembunyikan tangan

selamat bagi kami
jadi orang berdasi
dari jerami
jadi orang
berjas hitam dari arang
jadi orang begitu mahir
berkolusi
nepotisme...
sudah pasti
tak kan terlewati

Cirebon, 17 april 2009
21 rabiul awal 1430

Tak Tahu

sepi memagut
kelam tiba hinggapi
diri seorang anak manusia mengkerut
karena dingin telah rasuki tulang rusuk
serta kesunyian telah hampiri
kesadaran si khusyuk

biola-biola cinta
dawai hati penopang diri lusuh
penuh dengan dosa yang tak pernah
sama sekali dibasuh
dalam sunyi ia lantunkan
dalam hening ia dendangkan
nada kerinduan mendalam
akan kehidupan impian
melalui simfoni sebuah keabadian
merajut sutra menyulam sebuah tilam
berenda pualam

meski sendiri
dan terus meratapi
dalam segukan setiap kepasrahan
ia tak pernah putus asa
mengharap datangnya
sebuah makna yang dapatkan hati menjelma
mendapatkan hati menjadi sebuah biola
cinta sang kekasih katanya

engkau yang kini hanya terpaku
membisu dalam kebekuan
tak berdaya karena merasa terbuang
tak percaya pada diri sekalipun
sebab mereka telah dahulu berbuat
sebab mereka telah jadikan aku tak berderajat
cukuplah sesuap rasa manis
dari secangkir kopi pahit
yang selalu kau sediakan untuk majikan
menjadi penawar dalam setiap dukamu
sesuap rasa manis dari dahaga
kecupan dalam sebuah dunia nista
rangkulan mesra seorang peminta
harapan seorang anak dalam jasad tak bernyawa

perasaan dingin nan mendalam
seolah tak pernah hengkang
dari dimensi paruh waktu
yang ada di sini
dalam rongga dada
dalam sudut ruang berdimensi absurd
basahi diri sendiri
melucuti mengganti wadah yang telah membumi


Cirebon
12 nopember 2008
14 dzulqa'dah 1429