suara
di balik pagi yang buta
menggema
menggetarkan dilema
buat sebuah gelombang
frekuensi menjelma
walau begitu
tak satupun mendengar
isakan tangisnya
nan membahana
ia tertatih
dan akhirnya roboh
dibalik dinding itu
kusembuntikan diri
dalam sepi
hanya bisa menatap simpati
aku pun terperanjat
dalam lamunan
apa yang telah aku lakukan
tak ada satupun
ya, tak ada seorang pun
terjaga dari pulasnya tidur
kuhampiri daun yang menempel dikepalanya
meski kutahu
saat itu
bulu romaku terpaku
kubalikan tubuhnya
kuperhaikan seluruh tubuhnya
seorang lelaki sejati
tampak dari kedua lengannya
berisi
kuperiksa detak jantungnya
melemah
kiranya sebuah pemarkah
sang malaikat maut
yang siap menjemputnya
sedikit demi sedikit
kelopak matanya berkata
mencoba katakan
hal padaku
terbata-bata
meski tak tahu itu apa
kemungkinan
sebuah pesan
titipan bagiku
senyumnya tersimpul begitu saja
tangan dinginnya mencoba
memegang erat lenganku
tak ingin berpisah
dengan dunia yang mengkhianatinya
pelan-pela ia menutup matanya
ia tutup matanya pelan-pelan
Si Empunya sudah tak sabar
menunggu kehadirannya
sungguh diri ini hanya milik-Nya semata
dan kepada-Nya lah kita akan kembali
Majalengka
7 januari 2009
10
muharam 1430
Tidak ada komentar:
Posting Komentar