Kamis, 07 Januari 2016

Maut

suara
di balik pagi yang buta
menggema
menggetarkan dilema
buat sebuah gelombang
frekuensi menjelma

walau begitu
tak satupun mendengar
isakan tangisnya
nan membahana

ia tertatih
dan akhirnya roboh

dibalik dinding itu
kusembuntikan diri
dalam sepi
hanya bisa menatap simpati

aku pun terperanjat
dalam lamunan
apa yang telah aku lakukan
tak ada satupun
ya, tak ada seorang pun
terjaga dari pulasnya tidur

kuhampiri daun yang menempel dikepalanya
meski kutahu
saat itu
bulu romaku terpaku

kubalikan tubuhnya
kuperhaikan seluruh tubuhnya
seorang lelaki sejati

tampak dari kedua lengannya
berisi
kuperiksa detak jantungnya
melemah

kiranya sebuah pemarkah
sang malaikat maut
yang siap menjemputnya

sedikit demi sedikit
kelopak matanya berkata
mencoba katakan
hal padaku
terbata-bata

meski tak tahu itu apa
kemungkinan
sebuah pesan
titipan bagiku

senyumnya tersimpul begitu saja
tangan dinginnya mencoba
memegang erat lenganku
tak ingin berpisah
dengan dunia yang mengkhianatinya

pelan-pela ia menutup matanya
ia tutup matanya pelan-pelan
Si Empunya sudah tak sabar
menunggu kehadirannya

sungguh diri ini hanya milik-Nya semata
dan kepada-Nya lah kita akan kembali


Majalengka
7 januari 2009
10 muharam 1430

Tidak ada komentar:

Posting Komentar