sepi memagut
kelam tiba
hinggapi
diri seorang
anak manusia mengkerut
karena dingin
telah rasuki tulang rusuk
serta kesunyian
telah hampiri
kesadaran si
khusyuk
biola-biola
cinta
dawai hati
penopang diri lusuh
penuh dengan
dosa yang tak pernah
sama sekali dibasuh
dalam sunyi ia
lantunkan
dalam hening ia
dendangkan
nada kerinduan
mendalam
akan kehidupan
impian
melalui simfoni
sebuah keabadian
merajut sutra
menyulam sebuah tilam
berenda pualam
meski sendiri
dan terus
meratapi
dalam segukan
setiap kepasrahan
ia tak pernah
putus asa
mengharap
datangnya
sebuah makna
yang dapatkan hati menjelma
mendapatkan
hati menjadi sebuah biola
cinta sang
kekasih katanya
engkau yang
kini hanya terpaku
membisu dalam
kebekuan
tak berdaya
karena merasa terbuang
tak percaya pada
diri sekalipun
sebab mereka
telah dahulu berbuat
sebab mereka
telah jadikan aku tak berderajat
cukuplah sesuap
rasa manis
dari secangkir
kopi pahit
yang selalu kau
sajikan untuk majikan
menjadi penawar
dalam setiap dukamu
sesuap rasa
manis dari dahaga
kecupan dalam
sebuah dunia nista
rangkulan mesra
seorang peminta
harapan seorang
anak dalam jasad tak bernyawa
perasaan dingin
nan mendalam
seolah tak
pernah hengkang
dari dimensi
paruh waktu
yang ada di
sini
dalam rongga
dada
dalam sudut
ruang berdimensi absurd
basahi diri
sendiri
melucuti
mengganti wadah yang telah membumi
Cirebon
12 nopember
2008
14 dzulqa'dah
1429
Tidak ada komentar:
Posting Komentar